Kamis, 03 Mei 2012


SUKACITA SEBAGAI MITRA KERJA ALLAH

Allah selalu berhasrat membuat manusia bersukacita dalam menikmati kerja bersamaNya. Walaupun Tuhan Yesus sanggup melakukan misiNya tanpa keterlibatan seorang manusiapun namun dalam realitanya manusia senantiasa terlibat didalamnya.  Tuhan Yesus lebih memilih memberdayakan umat untuk melakukan semua pekerjaan yang menjadi misi Allah bersama-sama dengan Dia.  Dia merindukan semua manusia bersukacita menjadi saluran kasih dan kuasaNya. Bersukacita melayani Dia, bersukacita memenangkan jiwa, bersukacita memindahkan manusia yg sedang berjalan menuju neraka berubah arah menjadi penduduk sorga. Tidak terpikirkan bahwa melayaniNya akan berdampak merampas kebebasan dan menjadi beban berat bagi mereka yg sedang bergiat diladangNya.


Bagaimana kita dapat terus bersukacita dalam melayani pekerjaanNya?
 
Lukas 10:1 - 10


I. Sukacita dalam bekerja SALING MELENGKAPI (ayat.1)
Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua”
Tuhan Yesus memilih 70 orang murid serta memberi anugerah kuasa Allah dalam tugas pengutusan pastilah bertujuan efektiftas pelaksanaan misi. Mekanisme kerja 70 muridpun dikelola secara berpasangan dalam suatu tim kecil, setiap tiap tim terdiri 2 orang. Tujuan dari suatu tim adalah agar para anggotanya dapat saling melengkapi dan mendukung secara sinergis untuk melaksanakan suatu misi sesuai harapan. Dengan pola kerja demikian mengajarkan kepada kita untuk menjadi mitra Allah yang saling peduli dan memperkaya dalam kasih-karunia Allah.

Beratnya beban persoalan yg sering menjadi keluhan dalam pelayanan bukan karena Tuhan tidak punya hati yg tidak memahami kekuatan manusia. Namun karena manejemen mutu pelayanan yg salah urus karena tidak bersedia bersinergi dengan orang lain. Sehingga kita merasa bekerja seorang diri, merasakan beban berat dan kehilangan banyak sukacita dalam bekerja melayaniNya.

Kenalilah beberapa Pencuri Sukacita dalam Pelayanan :

1. Messiah Syndrome ( Merasa diri sebagai juru selamat)

Kuatnya kompetensi seseorang dalam pelayanan berdampak merendahkan kapabilitas orang lain yg terlibat didalamnya. Realitanya tidak sedikit para pelayan Kristus yg lebih memilih  mengkultuskan diri sendiri seakan-akan suatu progresivitas pelayanan menjadi sangat tergantung kepada diri kita.  Kalau "SAYA" tidak berperan di sana, maka menganggap pelayanan tersebut tidak beres. Sikap inilah yang disebut dengan “Messiah Syndrome”, sebab kita memainkan peran diri seperti seorang “mesias” atau “juru-selamat”. 

2. Kultus Individu (memusatkan perhatian pada diri sendiriatau orang lain)
Selain kecenderungan “mengkultuskan diri sendiri” juga terdapat bahaya “mengkultuskan- individu” seseorang. Sikap yang demikian akan menyebabkan kita membela mati-matian seseorang secara fanatik sampai kita kehilangan daya nalar yang jernih dan sikap iman yang sepatutnya.  Pola sikap yang demikian tidak akan pernah mampu menciptakan suatu mitra pelayanan yang saling memberdayakan. Sebaliknya sikap pelayanan tersebut akan mematikan daya kreatifitas dan kecerdasan sebagai mitra Allah. 

3. One Man Show Leadership (kepemimpinan yg berjuang seorang diri)
 
Betapa lelahnya diri kita yg mengambil peran dalam semua variabel pelayanan. Namun kenyataannya tidak sedikit orang yg sedang mempraktekannya dalam pelayanan. Dalam mengelola kehidupan bersama, kita cenderung untuk hanya berfokus kepada suatu titik pusat untuk mengokokohkan kerajaan seorang figur pemimpin. Dalam skala kecil memang dibutuhkan namun jika diterapkan dalam jangka waktu yang lama, fokus terhadap figur pemimpin tersebut tidak pernah membawa kepada suatu perubahan yang konstruktif untuk memberdayakan para anggota menjadi seorang pemimpin. Bahkan hanya kelelahan dan persoalan baru yg diciptakan.

II. Sukacita dalam POLA KEPEMIMPNAN KOLEKTIF (ayat.1).

Pola pelayanan yg diterapkan Tuhan Yesus memilih 3 orang murid terlebih dahulu dalam diri: Petrus, Yohanes dan Yakobus. Setelah itu Tuhan Yesus memilih 9 orang lagi, sehingga para murid Yesus berjumlah 12 orang murid. selanjutanya kepemimpinan 70 orang murid. Jelas menguatkan indikasi kepemimpinan yg jamak menjadi kebutuhan dalam kerja pelayanan.

Persoalan kepemimpinan pernah muncul pada jaman Musa. (Keluaran 18:13)
Musa melakukan proses pengadilan untuk menyelesaikan masalah umat Israel hanya seorang diri dari pagi sampai petang. Musa menganggap hanya dia sendiri yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan umat. Sebagai konsekuensinya dia harus menguras seluruh waktunya untuk mengurus berbagai persoalan sehari-hari umat, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan hal-hal yang lebih besar dan prioritas.


Melihat kondisi itu, mertua Musa yg bernama Yitro bersikap lebih kritis dan bijaksana sehingga dia menegur Musa dengan berkata: "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?"(Kel. 18:14).

Yitro beranggapan bahwa Musa telah menjadikan dirinya sebagai titik pusat atau satu-satunya figur yang menjadi fokus penyelesaian seluruh kasus umat. Sehingga Musa berjuang seorang diri (single fighter) untuk menyelesaikan setiap kasus yang dihadapi oleh umat Israel setiap hari. Nasihat Yitro kepada Musa adalah agar mencari orang-orang yang tepat untuk membantu dalam menyelesaikan tugas-tugasnya secara efektif.

Keluaran 18:21  “Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang”. 

Nasihat Yitro tersebut seharusnya mengejutkan kita. Karena Yitro yang adalah seorang imam Midian, justru memiliki pola pemikiran yang bijaksana dan hati yang lurus di hadapan Allah.

a. Kualifikasi kepemimpinan pelayanan yg diusulkan Yitro :
  • Seorang yang cakap (kompeten),
  • Seorang yg takut akan Allah (beriman), 
  • Seorang yg dapat dipercaya (kredibel)
  • Seorang yg memiliki nurani tidak serakah sehingga membenci suap (jujur dan tulus).   

b. Sitem kerja fungsional Kepemimpinan:
  • Pemimpin yang mengepalai seribu orang, 
  • Pemimpin seratus orang, 
  • Pemimpin lima puluh orang 
  • Pemimpin sepuluh orang. 
Sehingga kehidupan umat Israel yang berjumlah ratusan ribu orang menjadi suatu susunan sel yang tertata rapi dan mampu menjalankan fungsi secara sinergis. Yitro berhasil membuka kesadaran Musa untuk tidak lagi menjadi satu-satunya titik pusat dalam kehidupan bersama, tetapi memampukan Musa untuk melakukan penyebaran titik pusat kepada para pemimpin yang tepat.

Realita yg merampas sukacita dan mengkerdilkan mutu pelayanan:

a. Fanatisme Kepemimpinan

Sikap yang fokus kepada seorang figur akan membentuk sikap fanatisme dan ketergantungan yang melumpuhkan kehidupan bergereja. Bahkan keberadaan dan kesatuan umat berada dalam bahaya saat pemimpin yang menjadi satu-satunya figur tersebut kemudian dipanggil pulang kerumah Tuhan. Umat yang semula hidup bersatu, tiba-tiba kehilangan suatu figur pemimpin yang selama ini mempersatukan mereka. Sehingga mereka kehilangan good father dengan membentuk berbagai kelompok secara liar. Mereka tidak pernah terlatih untuk menghayati hidup bersama dengan pola kerja “kepemimpinan yang kolektif”.

b. Miskin Kaderisasi Kepemimpinan

Pola kepemimpinan tunggal terjadi karena seorang pemimpin yang kharismatis tidak pernah melatih dan memberi kesempatan serta kepercayaan kepada orang lain untuk menjadi pemimpin yang lebih baik dari pada dirinya. Tanpa disadari mereka membentuk orang-orang yang kelak menggantikan diri mereka hanya memiliki suatu kualitas dan kemampuan yang lebih buruk. Dengan cara demikian, mereka berharap akan selalu popular dan tetap dipuja oleh para pengikutnya.
Pentingnya pola penyebaran titik pusat kepemimpinan bukan hanya akan menyebarkan semua bakat dan karunia pada sebagian besar orang lain secara efektif, tetapi juga merupakan suatu prinsip kepemimpinan dari Kristus yaitu kaderisasi kepemimpinan yang lebih berkualitas dari kepemimpinan yang sebelumnya
III. Sukacita sebagai MITRA KERJA KRISTUS YG MISSIONER

Pola penyebaran kekuatan pelayanan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dari 3 orang murid, kemudian menjadi 12 murid dan juga menjadi 70 murid merupakan proses kaderisasi yang secara esensial menjadi cikal bakal penyebaran Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Penyebaran Kerajaan Allah tersebut menjadi efektif karena membuka kesempatan dan daya kreatif seluas-luasnya bagi setiap orang yang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan Yesus. Mereka diajak menjadi mitra Kristus untuk mewujudkan misiNya, yaitu menghadirkan Kerajaan Allah di atas muka bumi ini.
Makna perluasan Kerajaan Allah berarti upaya pemulihan, kesejahteraan dan keselamatan dalam kehidupan umat manusia. Sehingga setiap umat di dalam Kristus memiliki kesempatan, panggilan, hak dan kewajiban yang sama untuk merespon karya keselamatan Allah.

Sukacita yg disedikan Allah kepada kita adalah sukacita memperluas Kerajaan Allah yang didirikan oleh Kristus untuk mengekspresikan kuasa kasih dan keselamatan Allah dalam kehidupan umat manusia.

Beberapa petunjuk yg disampaikan Tuhan Yesus untuk menjadi mitra misi Kristus:

a. Menjadi Mitra Kristus  yang CERDAS (ayat.3)
Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”.   

Tuhan Yesus mengingatkan para muridNya untuk selalu waspada saat melaksanakan tugas dan misi Allah. Sebagai mitra Allah yang melaksanakan misiNya untuk menghadirkan realitas Kerajaan Allah, harus mampu membentuk tim kerja dengan orang-orang yang tepat sehingga terjalin suatu hubungan pelayanan  yang sinergis. Tim kerja perlu menjadi pola kepemimpinan dan pelayanan kita, karena selain kita terbatas untuk melaksanakan misi Allah, tetapi juga karena dunia yang kita hadapi adalah suatu dunia yang jahat.


Gambaran umat percaya seperti “anak domba” bertujuan menyadarkan agar mereka senantiasa hati-hati dan tidak takabur saat melayani di tengah-tengah dunia. Karena realitas dunia di mana kita hidup ditandai oleh kuasa dosa, dengan pola kehidupan anak-anak dunia seperti  seekor serigala yang ganas dan licik. Apabila umat percaya hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuannya sendiri, maka mereka akan menjadi mangsa yang empuk bagi para serigala dunia ini.

Dalam konteks ini bukankah cukup banyak umat percaya yang lebih suka berjalan seorang diri dan menjauhi persekutuan serta tim kerja karena mereka merasa mampu untuk mengatasi setiap persoalan hidup dengan kekuatan dan kemampuannya sendiri. Mereka beranggapan bahwa yang terpenting adalah menjadi mitra Allah, dan tidak merasa perlu menjadi mitra bagi sesamanya. Makna kemitraan atau kawan sekerja Allah justru dijadikan suatu alasan yang kuat untuk meniadakan pola kerja kemitraan dengan sesamanya. Seharusnya makna kemitraan dengan Allah diwujudkan pula dalam kemitraan bersama dengan sesama, khususnya dengan rekan kerja yang sesuai. Semakin banyak sesama yang dilibatkan sebagai mitra kerja atau kawan sepelayanan, berarti kita telah meminimalisir kekuatan anak-anak dunia yang menjadi serigala bagi sesamanya. Sebaliknya semakin kita tidak memiliki sahabat dan tim kerja, maka semakin kuatlah kuasa anak-anak dunia untuk memangsa seperti serigala yang ganas dan licik.

b. Menjadi MITRA KRISTUS YG BERKUASA (ayat.9)
sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah  sudah dekat padamu.


Lukas 9:1 menyatakan bahwa Kristus memberikan tenaga dan kuasa kepada para murid yang terpilih untuk menguasai setan-setan.

Kata “tenaga” berasal dari “dunamis” (δύναμις)lebih menunjuk kepada pengertian “kuasa ajaib” (miraculous power) atau perbuatan yang luar biasa (mighty/wonderful work)

Kata “kuasa” berasal dari kata “exousia” (ἐξουσία). Makna kata “exousia” menunjuk kepada: suatu kemampuan, penguasaan karena memiliki suatu kompetensi dan kapasitas.

Lukas 10:19, Tuhan Yesus berkata: “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu”.

Dengan demikian Tuhan Yesus menyatakan diriNya sebagai sumber segala kuasa, kemampuan, kompetensi, dan berbagai perbuatan yang luar-biasa sehingga para murid yang sebenarnya lemah dan tidak berdaya diberi kuasa untuk menjadi agen-agen pembaharuan dan keselamatan Allah. Para murid Kristus dipanggil untuk menyebarkan dan memampukan sesama agar setiap orang dapat  memperoleh anugerah keselamatan Allah yang membebaskan mereka dari belenggu kuasa kegelapan. Apabila setiap orang dapat dibebaskan dari belenggu kuasa kegelapan, maka mereka tidak akan lagi hidup dalam belenggu superioritas dan inferioritas, kelaliman dan penindasan, tindakan mendominasi dan memonopoli anugerah keselamatan Allah.
Kuasa yg Allah anugerahkan adalah dalam kerangka perluasan Kerajaan Allah yg akan menempatkan setiap orang setara dan bermartabat di hadapan Allah. Bahkan untuk menjadikan setiap umat manusia sebagai anak-anak Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus.
c. Menjadi MITRA KRISTUS YG BERGANTUNG PADA  ALLAH (ayat.4)

Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan

Inti etika-iman yang mendasar dari tugas pengutusan Tuhan Yesus adalah setiap utusan tidak boleh tergantung dengan apa yang dia miliki atau banggakan.
Maksud atau arti dari perkataan Tuhan Yesus tersebut adalah agar setiap umat yang menjadi mitra Tuhan  seharusnya tergantung penuh kepada Dia. Tugas pengutusan setiap umat percaya akan menjadi tersendat dan terhambat ketika umat mulai:
  • Mempersoalkan fasilitas pendukung, 
  • Keuntungan yang diperoleh, 
  • Pujian dan penghargaan dari manusia. 

Selama kita mengharapkan hal-hal yang demikian, maka kita akan kehilangan sukacita sejati sebagai mitra Allah.  Jika kita masih menjumpai dalam pelayanan gerejawi berbagai keluhan yang berkaitan dengan anggaran,  fasilitas pendukung, harapan keuntungan yang tidak terpenuhi, pujian atau penghargaan yang duniawi. Kecenderungan sikap yang demikian justru menunjukkan bahwa dinamika pelayanan kita masih dikuasai ke-manusiawian yang seharusnya sudah di taklukkan.

Belajar dari 70 murid Tuhan Yesus.
Lukas 10:17 menyaksikan: “Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu". 

Para murid Tuhan Yesus bergembira karena mereka  telah diberi karunia dan kuasa untuk menaklukkan roh-roh duniawi dan setan-setan.  Roh-roh duniawi dan setan-setan yang paling berbahaya bukan saat kita menghadapi kasus-kasus orang yang sedang kerasukan setan (demon possession), tetapi saat kita menghadapi hawa-nafsu dan keinginan daging di dalam diri kita.
Pergumulan kita yang paling berat adalah saat hati kita dirasuki oleh berbagai nafsu dan kepentingan pribadi. Secara umum dalam kondisi yang demikian, kita tidak lagi piawai membedakan secara obyektif di posisi sebagai mitra Allah ataukah telah beralih menjadi mitra kuasa dunia ini. Lebih celaka lagi, saat kita berada dalam cengkeraman hawa-nafsu dan kepentingan pribadi justru kita masih merasa berada di pihak Allah.

Jadi, makna bergantung penuh kepada Allah berarti kita membiarkan diri untuk dipimpin oleh Allah sesuai kemauan dan rencanaNya. Dengan sikap yang bergantung penuh kepada Allah, maka  akan selalu fokus untuk melaksanakan karya dan misi Allah. Sehingga yang utama bukan lagi masalah seberapa lengkap bekal, uang, pakaian, perlengkapan dan fasilitas pendukung yang harus tersedia dalam suatu pelayanan.  Tetapi keberhasilan kita untuk melaksanakan karya dan misi Allah lebih ditentukan oleh seberapa besar fokus dan kerelaan kita untuk dipimpin oleh kehendakNya.
Semakin Kristus menjadi fokus yang utama, maka kita akan dipenuhi oleh kuasa anugerahNya yang memampukan kita untuk menghadapi kuasa dunia ini.  

Senang masih bersama Anda tetap melayani Tuhan
Nikmatilah sukacita pelayanan bersamaNya, amin

by Haris Subagiyo 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar