Kamis, 03 Mei 2012


Solusi Mengubah KRISIS menuju KELIMPAHAN

Tidak ada seorangpun yg diberi dispensasi melewatkan begitu saja pelajaran "Kesukaran hidup" , tidak terkecuali mereka yg hidup taat berjalan dalam firman Tuhan. Kesukaran adalah mata kuliah wajib untuk dihadapi! , tidak ada pilihan... tidak ada tawar menawar...tidak ada pengecualian
Dibutuhkan daya tahan yg utuh, dengan memelihara hubungan langsung dengan Tuhan, sesama dan tanggungjawab pribadi. 
Bagaimana caranya  kita dapat terus berjalan maju ditengah krisis hidup yg paling hebat sekalipun? 


Kejadian 26 : 1- 35


1. Ketaatan pada Firman Allah, memberi kesempatan Tuhan bekerja dalam kita
Allah mengkaitkan secara langsung hubungan antara krisis pangan dengan ketaatan pada firmanNya.

karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." ayat 25
  • Mendengar firman Allah
  • Memelihara segala perintah Allah
  • Memelihara segala ketetapan Allah
  • Memelihara segala hukum Allah
Memelihara hubungan dengan Allah melalui ketaatan melakuan Firman Allah merupakan kunci utama keberhasilan mengatasi berbagai krisis. 


Dalam kasus kelaparan saat ini Tuhan melarang Ishak untuk pergi ke Mesir (ay 2). bedakan dengan persoalan yg dihadapi Abraham. Pada waktu Abraham menghadapi bahaya kelaparan, ia mengungsi ke Mesir (Kej 12:10). Mungkin Ishak mau meniru jejak ayahnya dengan mengungsi ke Mesir pada waktu mengalami bencana kelaparan. Sepertinya mengungsi menjadi trend atau reflek manusiawi dalam menghadapi krisis. dikit-dikit mengungsi, sebentar-sebentar mengungsi, mengungsi kog cuma sebentar? mengungsi boleh saja tetapi ini bukan satu-satunya solusi krisis! 


Bencana kelaparan ini bukanlah  krisis yg pertama kali, perhatikan tentang pengungsian ke Mesir pada waktu mengalami bencana kelaparan, Abraham, Ishak dan Yakub mengalami hal yang berbeda-beda:
  • Pada waktu Abraham mengalami kelaparan dan mengungsi ke Mesir,Tuhan tidak memerintahkan ataupun melarang hal itu.
  • Pada waktu Ishak terkena kelaparan, Tuhan melarangnya untuk pergi ke Mesir.
  • Pada waktu Yakub terkena kelaparan, Tuhan justru menyu­ruhnya untuk pergi ke Mesir (Kej 46:3)!
Kita tidak dapat menggeneralisasi solusi krisis dari pengalaman masa lalu. Kompleksitas masalah dan  situasi yg berbeda mendesak kita mencari solusi yg sesuai kebutuhan. Namun Tuhan mengajarkan satu hal: apapun persoalannya, dimanapun dan kapanpun prinsip penyelesaian pertamanya tetap sama: Lakukan saja kehendak Firman Tuhan dengan taat!

Tuhan menyuruh Ishak tinggal di Gerar sebagai orang asing (ay 2b,3a). 
Bahaya kelaparan ini memaksa Ishak untuk meninggalkan tanah perjanjian (Kanaan), dan ini mungkin membuatnya ragu-ragu akan janji Tuhan. Karena itu Tuhan harus mengulangi janjiNya untuk menguatkan iman Ishak.
Kata-kata Tuhan dalam ay 5 menunjuk pada Kej 22:18.

Sebetulnya janji yg diberikan Tuhan tidakberproses dariketaatannya. Namun Ia sudah mendapatkan perjanjian itu sebelum ia taat. Tetapi ketaatannya dalam Kej 22, dimana ia rela mempersembahkan Ishak, menyebabkan Tuhan meneguhkan perjanjianNya dengan Abraham.
Di sini Tuhan menyatakan hal itu kepada Ishak untuk memotivasi Ishak untuk meniru ketaatan Abraham.

Ishak mentaati Firman Tuhan itu. Ia tidak pergi ke Mesir, tetapi ke Gerar yang merupakan wilayah dari Abimelekh (ay 1b,6).

Adalah sesuatu yang menarik bahwa Ishak mau taat tanpa bertanya: ‘Mengapa tak boleh ke Mesir? Mengapa harus ke Gerar?’

Catatan: Abimelekh di sini kemungkinan besar tidak sama dengan Abimelekh dalam Kej 20-21, karena saat itu sudah sekitar 80 tahun yang lalu. Mungkin ini adalah anak dari Abimelekh yang ada dalam Kej 20-21. Jadi, Abimelekh sebetulnya bukan nama tetapi gelar, yang dipakai turun temurun (demikian juga dengan ‘Pikhol’ dalam ay 26 bdk. 21:22).


Tuhan harus menyatakan secara tegas dan berulangkali untuk meyakinkan kita tentang otoritasNya yg mengatasi segala hal:
  • Dia menyatakan diri sebagai Allah yg menyertai
  • Dia menyatakan diri sebagai Allah yg memberkati
  • Dia menyatakan diri sebagai Allah yg tidak dapat berubah setia
  • Dia menyatakan diri sebagai Allah yg berjalan diatas FirmanNya sendiri
dari pengalaman bapa orang beriman ternyata musuh dari ketaatan adalah ketidak percayaan yg tercermin dari dusta seseorang. Dalam ayat. 7 Ishak berdusta dengan cara seperti yang dilakukan oleh Abraham dalam Kej 12:10-20 dan 20:1-18.

Baik Abraham maupun Ishak, yang tercatat sebagai bapa orang-orang beriman, masih saja dapat berbuat berdusta karena ketidak-percayaan. Ini menunjuk­kan betapa mudahnya kita jatuh dalam dosa itu. Semua orang tanpa kecuali resisten terhadap dosa!
Harapan besar Allah adalah supaya Ishak ini  meneladani ketaatan Abraham tidak bersambut dengan kenyataan. Tetapi realitanya malahan sekarang  ia meniru dosa ayahnya!

Ada perbedaan antara dusta Abraham dan dusta Ishak.
Dalam kasus Abraham, kata-katanya sebetulnya bukan dusta, karena Sara memang adalah saudara tirinya. Ia hanya menyata­kan setengah kebenaran (half-truth). Tetapi bagaimanapun juga, maksudnya adalah untuk menipu.

Dalam kasus Ishak, kata-katanya jelas adalah dusta karena Ribka bukan saudara Ishak.
Dusta Ishak ketahuan, dan ia ditegur oleh raja kafir! Ini betul-betul peristiwa yang memalukan. Memang dusta bisa membuat kita menjadi sangat malu.

Illustrasi: ada seseorang yang pergi kepada seorang penjual ayam untuk membeli ayam. Penjual ayam lalu mengeluarkan seekor ayam yang beratnya 1 kg. Tetapi pembeli itu berkata: “Kok kecil sekali? Apakah ada yang lebih besar?”. Penjual ayam itu masuk kembali ke dalam, tetapi ia mendapati bahwa ayam tadi adalah ayam yang terakhir yang ia miliki. Tetapi ia tidak mau mengecewakan pembelinya, dan karena itu ia keluar dengan ayam yang sama dan berkata: “Yang ini beratnya 1,2 kg”. Tetapi pembeli itu berkata: “Kok juga kecil ya? Saya beli saja kedua-duanya!”. Bisakah saudara pikirkan dimana penjual ayam itu harus menyembunyikan mukanya? Kalau saudara tidak mau mengalami peristiwa yang memalukan seperti ini, jangan berdusta!

Aplikasi:
Tidak ada alasan pembenar apapun untuk menerapkan cara cara kotor dalam berbisnis walaupun filosifi dunia berkata : orang jujur akan hancur, tidak jujur akan mujur , itu tidak relevan dengan fakta Alkitab bahwa mereka yg hidup berstandarkan Firman Allah pasti diberkati, disertai Allah & dijamin secara pasti oleh Allah.
Kepercayaan & ketaatan kita terhadap Firman Allah bagaikan jalan yg kita sediakan bagi Allah untuk bekerja maksimal dlam hidup kita, makin percaya makain luas jalan terbentang, makin taat makin leluasa Allah bekerja. Dalam kondisi sepelik apapun pandangan kita tidak boleh menoleh pada cara  mudah yg menghalalkan segala cara demi keuntungan sesaat tetapi mengorbankan reputasi & tujuan hidup kita.


2. Ketekunan melahirkan keberhasilan  yg mengagumkan


a. Ishak adalah orang yg bersemangat untuk bekerja


26:12Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.
26:13Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.
26:14Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya.

Ketaatan pada Firman Allah dibuktikan dengan kerja extra, karena natur manusia adalah makhluk yg bertanggungjawab atas hidupnya sendiri dengan cara bekerja. Hukum kerajaan Allah bukanlah pelajaran untuk diam menunggu atau hanya menerima saja dari Allah tanpa tindakan aktif untuk menyambut berkatNya. semua manusia harus membanting tulang berkeringat. Tuhan Yesus berkata: Carilahdahulu kerajaan Allah.....ini merupakan usaha keras, upaya yg sunguh-sungguh bahkan perintah yg tidak bisa dibantah.


ay 12-14, terlihat bahwa Ishak adalah seorang pekerja keras dan rajin! Sekalipun Tuhan berjanji menyertai dan member­katinya, tetapi ia tetap bekerja dengan keras! sebagai hasilnya: 
  • pada tahun itu juga Ishak berhasil memanen hasil kebunnya 100 kali lipat 
  • menjadi semakin kaya dan sangat  kaya melebihi orang lain. 
Perhatikan!!! bahwa Tuhan tidak pernah mengulur-ulur waktu bahkan saat Tuhan turut bekerja keberhasilan yg didapat bukanlah nilai rata-rata tetapi belimpah-limpah melebihi ukuran normal.
  • dari sisi waktu: Allah tidak menunda-nunda pekerjaan
  • dari sisi jumlah: Allah memberikan 100 kali lipat
  • dari sisi kualiatas: Allah memberikan kekayaan yg progresif.
Allah hanya memberkati mereka yg giat bekerja, tanpa intervensi Allah maka air mata & keringat manusia dalam berusaha hanya menjadi sampah yg terbuang sia-sia tetapi karena Allah keringat kita diubahNya menjadi berkat.


b. Ishak adalah orang yang tidak gampang menyerah dengan situasi

26:18Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya.
26:19Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya.
26:20Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: "Air ini kepunyaan kami." Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana.
26:21Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna.
26:22Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata:"Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini."
Air bagaikan nyawa kehidupan, perampasan sumur atau penutupan sumur oleh orang Filstin pada saat itu adalah perampasan hak hidup, ini masalah serius!!!!  Namun Ishak tetap menanggapi secara dengan kepala dingin problem tersebut dengan cara menggali lagi, dirampas lagi ia menggali lagi dan terus menggali sampai Tuhan sendiri turun tangan memberi pembelaan. 
Pada akhirnya Ishak mendapat sumur yang tidak menjadi bahan rebutan, Ia menganggapnya bahwa Tuhanlah yang memberinya kelonggaran (ay 22).

Aplikasi:
Mengapa kita idealnya dapat menjadi seseorang yg berhasil dalam hidup ini? 
  • alasan pertama: karena Tuhan yg memberkati
  • alasan kedua: karena kita bersemangat untuk bekerja keras pantang menyerah
Jika kita sering jatuh terus dalam kegagalan tanpa meraih keberhasilan yg signifikan dengan ekspresi iman kita kepada Tuhan, mungkin saja ada yg salah dengan sikap kita yg ONE MAN SHOW- Allah tidak terlibat dalam aktivitas kita atau memang kita menjadi orang yg hanya menerima saja keadaan apa adanya tanpa mau menari celah-celah untuk maju.

3. Kebijaksanaan menyelesaikan konflik sosial secara tuntas

26:15
Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah.
26:16
Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: "Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa dari pada kami."
26:17
Jadi pergilah Ishak dari situ dan berkemahlah ia di lembah Gerar, dan ia menetap di situ

Ishak diusir oleh Abimelek karena alasan kalah berkompetisi
a. Bersikap mengalah 

Apa saja yg sedang kita hadapi: susah atau senang, entah krisis atau kelimpahan, akan direspon oleh lingkungan sekitarnya. Persoalannya adalah bagaimana kita dapat menempatkan diri sebagai orang yg membawa mandat ilahi bersikap bijaksana.
  • orang Filistin menjadi iri hati (ay 14b)
  • mereka menutup sumur yang dulunya digali oleh hamba-hamba Abraham (ay 15), padahal ternak Ishak yang banyak itu pasti membutuhkan banyak air.

Kekuatan yg besar jika dibenturkan dari arah berlawanan, hasilnya adalah kerusakan hebat yg tidak menguntungkan keduanya. Walaupun Ishak telah mencapai tingkat kesuksesan materi, menjadi orang yg sangat amat kaya, terkenal, orang yg seharusnya mendapat penghargaan sosial yg tinggi tetapi rela untuk mengalah. Secara emosional ia sangat sakit, korban perasaan karena pekerjaannya dirampas paksa bahkan diusir tetapi prinsip hidupnya tidak dikorbankan untuk gejolak perasaan sesaat.


b. Menjunjung tinggi perdamaian

26:26
Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya.
26:27
Tetapi kata Ishak kepada mereka: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?"
26:28
Jawab mereka: "Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau,
26:29
bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN."
26:30
Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum.
26:31
Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai.
26:32
Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: "Kami telah mendapat air."
26:33
Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang.

Walaupun Ishak pernah disakiti oleh Abimelek mungkin perasaan yg terluka belum terobati namunia masih mau menyapa dengan jujur: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?"
Ishak terbukti menjadi orang yg tidak berorientasi pada diri sendiri & yg tidak berjalan dikendalikan perasaan. Lihatlah ia menggunakan akal sehatnya dan memperhatikan kepentingan orang lain dengan serius.


a. Ishak tidak membalas kejahatan dengan kejahatan
  • Ia mau menyapa dengan jujur
  • Ia menanggapi permintaan damai dari orang lain
  • Ia menjamu orang yg pernah memusuhi
b. Ishak tidak menuntut orang lain bersikap ideal


Walaupun Abimelek yg pernah bersalah tidak pernah menyatakan permintaan maaf padanya, ia tidak menuntut pernyataan tersebut sebagai keharusan.
Ia tidak menempatkan orang lain yg pernah memusuhi sebagai musuh abadi. bahkan ia rela berkorban lagi baik perasaan maupun materinya untuk kebaikan bersama.


Aplikasi: 
Betapa seringnya kemajuan karir, keluarga atau pelayanan kita dikotori oleh sampah perasaan tidak mau dikalahkan atau tidak boleh dilukai orang . Kita terus menerus membesarkan rumus bahwa saya sudah merasa besar & hebat seharusnya mendapat perlakukan terhormat bukan sebaliknya. Kita akan memberontak jika keadaan atau orang menyudutkan pada situasi yg merebut kenyamanan perasaan. 
Seharusnya kita menata ulang mental kita dari berorientasi materi menuju pribadi: artinya menempatkan manusia lebih berharga dari yg dimilikinya.
Seharusnya kita mengubah arah kepentingan dari diri sendiri menuju orang lain
Seharusnya kita menggunakan akal sehat bukan dipermainkan oleh gejolak perasaan.
Ishak memiliki daya juang yg tinggi sehingga sanggup membalikkan KRISIS menjadi hidup BERKELIMPAHAN  karena tiga faktor:

  • Ketaatannya pada Firman Tuhan
  • Kedispilinan dalam bekerja
  • Kebijaksanaannya menghadapi orang
itulah solusi mengubah krisis menuju hidup kelimpahan 
Tuhan Yesus memberkati

by Haris Subagiyo


Tidak ada komentar:

Posting Komentar